Bicara Mudah, Disiplin itu yang Susah
Akhirnya saya kembali menemukan blog
ini yang telah ditelantarkan sekian lama akibat kemalasan dan ketidakpedulian
yang sulit dimaafkan.
Sebenarnya niat untuk kembali mengurusi
blog yang isinya baru segelintir ini dikarenakan melihat kegigihan beberapa
orang yang masih bisa menyempatkan waktu mereka yang padat merayap namun masih
mampu untuk menumpahkan isi pikiran dan pengalamannya ke dalam blog pribadi
masing-masing. Sebut saja Mbak Trinity yang telah keliling dunia selama bumi
mengelilingi matahari dalam satu kali putaran, Mas Alit Susanto yang sering
membuat galau kaum tuna asmara dan jualan iklannya yang pas ramuannya, Bang
Raditya Dika dengan segala macam kambing dan hewan masa purbanya, atau teman
saya Si Aceh Hitam Manis dengan
blog Cilet-Cilet-nya. Mereka semua masih mempunyai waktu untuk
mengisi halaman blognya, memberi inspirasi dan informasi bagi semua orang
dengan caranya sendiri-sendiri.
Dan mengapa saya tidak bisa sedisiplin
mereka???
Terkadang saya berpikir bahwa sifat dan kebiasaan jelek
yang jarang selesai melakukan suatu hal sampai benar-benar selesai sudah terlampau
akut. Apakah
ini keturunan atau sebuah berkah, saya tidak pernah mau ambil pusing. Yang
pasti ketika rasa malas itu mengajak saya untuk menemaninya, maka saya hanya berteman
dengan makanan atau cuma sekedar berbaring di kamar sembari menatap televisi.
Setelahnya,,,,, tidurrrr.....
Menulis memang menjadi salah satu hasrat saya sejak zaman
SMU. Banyak mading dan koran yang
sering menunggu tulisan saya. Dan ituuu duluuu….,
Kebiasaan
menulis ini berbanding lurus dengan hobi membaca. Namun
tidak seperti membaca, keinginan menulis ini memang dirasa lebih berat untuk
diwujudkan. Menumpahkan apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang
kita alami, dan apa yang kita inginkan tidak semudah apa yang kita bicarakan ke
orang lain. Dan itu menjadi tantangan berat untuk model manusia seperti saya.
Belajar dari contoh dan masalah akut
tersebut, sekarang saya bertanya kepada diri sendiri bahwa sampai kapan saya
akan berubah untuk menjadi manusia yang mengikuti hasratnya dan menikmatinya
sebagai salah satu karunia yang diberikan Sang Pencipta? Jika travelling ke berbagai tempat sebagai
salah satu hasrat terbesar saya sudah diwujudkan sedikit demi sedikit, mengapa
juga menulis harus saya tinggalkan dengan sia-sia?
Blog ini memang begitu sederhana dengan
tampilan yang seadanya. Jujur saya tidak mahir menjadikan blog ini seindah Taj
Mahal atau Raja Ampat. Namun paling tidak ini bisa menjadi salah satu sarana
untuk menyalurkan apa yang menjadi keinginan saya dan syukur-syukur dapat
memberikan info ataupun sekedar bacaan ringan buat orang lain.
Semoga keinginan ini tetap kuat dan
bisa meningkatkan kedisiplinan diri. Tak masalah bagaimana nanti hancur
leburnya susunan kata di blog ini -harap dimaklumi-, namun bagi saya, untuk
sementara ini, ketika setiap apa yang saya pikirkan dapat terangkai menjadi
kata dan kalimat maka itu sudah cukup. Saya belum bisa sejago Andrea Hiratta
atau Agustinus Wibowo dalam bercerita. Tapi selalu berharap bisa seperti mereka
secepatnya.
Saya mengucapkan “Selamat Datang
Kembali” kepada diri sendiri.
Dan mengucapkan “Selamat Menikmati” bagi mereka yang
mungkin “tersesat” atau “telah disesati” untuk membaca apa yang ada di blog
ini.... :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar