Senin, 13 Juni 2016

You are Adult Now, Couch


"Couchsurfing Merapat"



Selamat datang kembali setelah beberapa bulan menyepi di semak kemalasan...

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakannya...


Selama (tanpa "t" lagi) beberapa bulan ini, begitu banyak kisah kasih terjadi. Dari mulai Imlek di kota saya yang tercinta, Pangkalpinang, yang tak semeriah tahun-tahun sebelumnya karena terserang banjir besar sebanyak dua kali, kisah artis yang tak hapal Pancasila sampai dua kali, anak SMA cantik yang suka "tandain" polisi, sampai pemilik warung yang semua makanan jualannya dibungkusin plastik sama Satpol PP (segitu baiknya bapak ibu mau bungkusin :-) ).


Dan kemarin, tepat di tanggal 12 Juni 2016, Couchsurfing Internasional merayakan hari jadinya yang ke-17. Dia telah dewasa, udah bisa punya surat izin mengemudi, bisa pulang larut malam, dan bisa ikutan pemilu... :) 



Oh iya, bagi temen yang belum tau apa itu Couchsurfing, ini adalah situs jejaring sosial yang bisa menghubungkan para pencinta jalan-jalan dengan masyarakat di suatu daerah. Jadi ini adalah suatu komunitas yang anggotanya akan menyediakan tempat sementara secara gratis, atau mendapatkan teman seperjalanan, atau memberikan berbagai macam informasi mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan daerahnya tersebut. Semua dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, sopan, bersahabat, dan tidak memberatkan.

Ini merupakan jejaring yang dapat menyajikan pertukaran budaya, pengalaman dengan masyarakat, dan tentunya dapat memberikan jaringan yang baik bagi anggotanya. Bagi teman-teman yang ingin mengetahui lebih lanjut, bisa segera kunjungi alamat www.couchsurfing.com. Disitu akan dijelasin semua yang menyangkut tentang situs ini, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sampai semua profil calon teman dari seluruh dunia. 


Dan mumpung nih di bulan puasa yang penuh berkah ini, anggota Couchsurfing Bangka Belitung merayakan sweet seventeen dengan melakukan buka puasa bersama di Panti Sosial Asuhan Anak Baiturrahman Annur Pangkalpinang. Berbagi, walaupun belum bisa banyak, tapi paling tidak diharapkan bisa menjadi momen yang baik bagi semuanya.
"Suatu perjalanan yang panjang akan selalu dimulai dari satu langkah keciL"




Dan di bulan suci ini ada harapan semoga semua anggota Couchsurfing Bangka Belitung bisa semakin solid dan tetap menjadi satu kesatuan. Kita boleh berasal dari beragam latar belakang, dengan kekhasan karakter dan sifat tersendiri, namun justru yang demikianlah yang seharusnya membuat kita menjadi lebih kuat sebagai satu komunitas.

Being nice to someone you don't like doesn't mean you are fake.
It means you are mature enough to tolerate your dislike for them. 

Senin, 01 Februari 2016

DI DALAM SECANGKIR TEH


_INI MAH TEH, BUKAN KOPI_


Dini hari ini terbangun terburu-buru dan langsung bergumam "sudah Februari lagi".
Waktu bergulir cepat sekali dan saya masih belum merasa melakukan sesuatu yang spesial di Januari kemarin.
Sudahlah, tak guna disesali. Justru saya akan menyesali diri jika pagi ini ditinggal pesawat pergi. Mandi, angkut tas, dan cari taxi.

Sampai bandara dan mengurusi segala tetek bengeknya.
Masih ada waktu untuk menikmati pagi sebelum terbang.
Okay, tak ada salahnya memesan secangkir teh, bukan segelas kopi.
Bukan karena takut kopi pagi ini akan diracik dengan sedikit sianida, namun memang kopi bukanlah minum favorit saya sedari dulu.

Sampai sekarang tidak pernah tahu apa beda rasa kopi jenis arabica dengan robusta, apa yang membuat seruputan kopi luwak lebih nikmat dibanding kopi hitam Cap Kingkong yang pernah menjadi primadona di kampung saya, dan bagaimana menikmati kopi dengan elegan dan meyakinkan seperti di film-film.

Yah, pagi ini cukup secangkir teh lemon.
Rasa sedikit pahitnya sedikit mengingatkan saya akan pahitnya hari ini. SENIN.
Senin pagi ini membuat sadar bahwa masih lima hari lagi sebelum menuju sabtu.
Saat dimana saya tidak harus memakai seragam kerja.

"I Hate Monday???"

Saya tidak membencinya. Cuma merasa pahitnya saja.
Saya lebih membenci diri sendiri jika hari ini saya lalui dengan cuma-cuma.
Lebih benci lagi dengan pembuat tagline diatas. Gara-gara dia, hari senin terasa kaku dan tidak mengasikkan seperti jumat, yang punya tagline "Thanks God It's Friday".
Damn you!!!

Fresh...
Menghirup aroma lemonnya menyadarkan saya bahwa dibalik pahitnya teh ini, masih ada sesuatu yang terasa segar dan membuat bahagia.
Layaknya hidup yang saya atau kalian jalani, kadang pahit banyak terasa, namun tak sedikit pula manis dijumpa.
Kita bisa lebih menghargai manisnya sesuatu justru ketika kita pernah mengecap pahit sebelumnya.



Hanya rasa syukur yang bisa membuat kita bisa menerima semuanya.
Bersyukur masih bisa bertemu dengan Februari ini.
Bersyukur masih bisa meminum secangkir teh sembari mengamati lalu lalang calon penumpang.
Dan bersyukur panggilan menaiki pesawat sudah dimulai...


_"Bersyukurlah dalam hidup, maka kau akan merasa bahagia selamanya"_






Selasa, 26 Januari 2016

JANUARI MENGGELEGAR


Bom : Ini Sarinah, bukan Suriah


Tahun 2015 telah usai dan tahun 2016 datang dengan semangat baru dan harapan baru. 
Begitu doa yang sering digumamkan ketika tahun baru menjelang. 
Kalimat yang klise namun sebenarnya memang itu yang diharapkan manusia sebagai penjelajah waktu.

Dan saat ini, bulan Januari 2016 pun sudah hampir meninggalkan kita. 
Waktu sudah berjalan begitu cepat tanpa menghiraukan sekelilingnya.
Dan apa yang sudah kita lakukan selama Januari ini?

Apakah resolusi yang dibuat di akhir tahun 2015 dan awal 2016 sudah terpenuhi?
Apakah resolusi itu tetap berjalan sebagaimana yang diharapkan?
Atau mungkin sudah menguap ibarat air yang dipanaskan? Menggelegak matang, kemudian sedikit demi sedikit hilang menjadi sekedar uap.

Di bulan ini, negara kita tercinta dikejutkan dengan peristiwa mengagetkan yang bikin jantung goyang-goyang.
Kamis, 14 Januari 2016, Jakarta diguncang bom. Kawasan Sarinah yang memang selalu ramai, menjadi spotlight karena bom teroris dan aksi penembakan mirip film Hollywood antara pelaku dengan para polisi pemberani kita.

Pelaku disinyalir adalah kelompok ISIS. Suatu kelompok yang menurut saya labil. Mengaku ingin mendirikan negara Islam semacam Khilafah, namun tindak laku kelompoknya jauh banget dari nilai Islam. Bermimpi mendirikan rumah tangga yang baik, tapi ketika bangun malah pipis sembarangan dan bikin bau sekitar. Gak nyambung....

Namun yang lucu adalah reaksi sebagian masyarakat Indonesia menyikapi masalah ini. 
Di awal serangan, semua memang bilang Pray For Jakarta, Jakarta Berduka, dan sebagainya. Hastag tersebut bertahan sekian jam, yang kemudian ramai-ramai "diralat"'
Semua ingin berganti menjadi semangat #Kami Tidak Takut. Yah, kami memang tidak takut. Jangan biarkan ketakutan membuat kelompok teroris bermata satu itu merasa menang karena mereka memang hanya ingin menyebarkan teror, bukan kasih sayang. Ini bulan Januari, bukan Februari -bulan kasih sayang-.

Mereka ibarat mantan yang gak rela kita lepasin, yang kemudian ngancem nyebarin foto-foto kita yang lagi shirtless, atau pas cuma pake celana dalem saat mandi di sungai belakang rumah. Bikin kita deg-degan tapi tetep ingin kita lawan dan putusin.

Foto Bapak Tukang Sate dan Bapak Penjual Kacang Rebus dijadiin semangat dan lelucon indah.
Bahwa Indonesia gak peduli sama teroris yang mabok kebanyakan nonton film laga.
Bahwa masyarakatnya lebih peduli bagaimana mencari nafkah buat keluarga daripada meratapi nasib karena dor-doran mereka.

Sekian jam selanjutnya kisah heroik polisi kita menjadi viral. Foto polisi ganteng dengan outfit merek ternama membuat para wanita kita seperti menemukan dewa penyelamat. Semua ramai mencari identitas polisi tersebut dan ingin mengenalnya lebih jauh.
Saya yakin kalo polisi itu punya akun sosial media, pasti sekarang ini pengikutnya bisa sampe ribuan. Lahan basah buat di-endorse... Mampir kesini ya kakak...

Dan setelah belasan jam, muncul pernyataan-pernyataan sumbang, diantaranya bilang bom yang memakan korban jiwa ini sebenarnya adalah setting-an. Untuk mengalihkan isu soal Freeport, kasus Papa Minta Saham, dan sebagainya.
Banyak yang heran kenapa polisi kita bisa sebegitu cepatnya datang untuk merespon teroris kesurupan ini. Nahhh loooo...

Saya cukup heran kalo ada yang bilang soal ini. Ntar kalau polisi kita lama respon, dibilang lelet banget, tidak cepat tanggap, cuma makan gaji buta, dan sebagainya. Serba salah...
Emangnya situ mau polisinya mandi dulu, abis itu ngopi santai, lalu jemputin anak sekolah, baru kemudian datang rame-rame ke Sarinah buat nembak mati penjahatnya. Oh, sounds familiar...

Beneran setting-an atau tidak, kita harus angkat topi dengan kinerja polisi kita.
Kita harus menghargai perasaan keluarga para korban, mendoakan korban dengan doa yang baik, dan menjadikan peristiwa ini sebagai pemersatu kita sebagai warga negara Indonesia.

Kita harus menunjukkan kepada siapapun itu bahwa KITA MEMANG TIDAK TAKUT!!!